Bersepada Solo Bandung Pangandaran, lewat Jalur Selatan

Begitu acara keluarga ke Ciater tak jadi, mendadak saya ingin touring sendiri. Sebelumnya, komunitas sepeda “Ider Alam” mengajak ke pantai Cipatujah. Namun rute dari Bandung-Garut-Ngampang-Tasik-Puspahyang-Sodong, sudah saya tempuh dengan kelompok ini. Juga dengan mister Ayeng mengambil rute ke Cijapati-Garut-Ngampang-Sukaraja-Cibalanarik-Cipatujah dan Pangandaran.

Saya bilang ke Anang  sang Kepala Suku “Ider Alam”, bertemu saja nanti di Cipatujah. Kepergian mendadak ini, hanya persiapan seadanya. Perbekalan waktu ikut Jambore MTB Indonesia di Gn. Kareumbi masih ada. Terutama mie instan, hanya ditambah kopi loewak. Tambahan lain komponen sepeda, standar sepeda. Bagi yang suka turing perlengakapan ini sangatlah perlu. Saya melihat anggota bikepacker memakainya. Terutama saat beristirahat agak sulit menyandarkan sepeda.

Keberangakatan hari Sabtu (24/12, 2010). Sedangkan komunitas “Ider Alam” besok harinya. Atau pas hari natal. Seperti yang direncanakan, jam 5.00 setelah shalat subuh harus berangkat. Ternyata ada gangguan. Saya belum terbiasa pake standar. Ketika sepeda hendak di keluarkan dengan cara mundur, bagian tungkai pedal nyantol ke standar. Krek. Standar sepeda jadi goplak. Terpaksa harus dibetulkan dulu.

Tapi belajar dari pengalaman, sesuatu yang mengganggu perjalanan jangan menyebabkan kesal. Biarkan seperti daun yang mengalir dalam aliran sungai. Sesekali akan tersangkut batu. Kejadian ini mungkin bisa jadi hikmahnya agar terhindar dari bencana. Tak perlu memaksakan kehendak.

Akhirnya pilihan lewat jalan Nagreg. Dengan perhitungan jarak ke Nagreg lebih dekat. Medannya tak terlalu menajak. Sedangkan ke Cijapati dengan beban cukup berat (selain T-shirt (4), jersey (2), celana pendek (3), sarung, alat-alat masak/kompor+ spirtus, tenda bikamfer, sandal Eiger, kunci-kunci dll.) akan menguras tenaga. Sedangkan perjalanan masih jauh. Sedangkan tantangannya jalanan yang ramai menjelang natal.

Habis tugu Intan, saya mengaso dulu untuk sarapan. Jam 9.45 kembali ngegowes melalui jalan Samarang. Sebenarnya, saya tak mau melalui rute ini. Bagaimana pun, rute ini menyimpan masa lalu saya yang suram. Bahkan ke kota Garut ini pun, saya tak mau menginjakkan kaki lagi. Tapi lupakanlah.

Sudah banyak berubah di Samarang. Beberapa komplek perumahan hadir. Menyita hamparan sawah. Awalnya setelah lewat desa Cibodas, saya ingin mengaso sambil ikut shalat dzuhur di rumah orangtua Agus Laksana atau di rumah kakaknya, Kang Ujang. Ternyata lagi “suwung”. Terpaksa melanjutkan kembali. Dan, ketika ada masjid yang cukup bagus tapi saya mampir dulu. Ternyata hanya ada dua orang di mesjid itu. Mungkin sepasang suami istri yang setia ibadah di situ. Ada rasa wasa-was, jangan-janagan ini masjid Ahmadyah?

Saat perjalanan melalui Desa Cisurupan, cuaca cukup panas. Namun sesampainya ke Cikajang tanda-tanda akan hujan sudah terlihat. Di pos ojeg, sesaat saya membenahi perbekalan dengan dibungkus coverbag. Ternyata jas hujan tak terbawa. Padahal sudah saya persiapkan. Tapi agaknya lupa tak dimasukan.

Saya segera meng-sms Anang. “Please lah pang nyandakkeun jas hujan ka rumah, engke ketemu di Cipatujah.” Benar saja, di daerah Cikajang hujan turun. Awalnya saya merasa terbantu dengan menggowes di bawah guyuran hujan. Namun saat melalui jalan terus menurun, tubuh mulai mengigil. Beberapa kali jemari tangan seperti dialiri listrik. Hingga menyebabkan stang agak oleng. Jika di teruskan alamat celaka.

Akhirnya di Cikahurip, ada sebuah warung dan pos ojek. Tak dinyata juga ada kantor polisi. Pucuk di cita ulam tiba. Saya terpaksa harus res disini. Meski jam menunjukan hampir jam empat. Sebenarnya bisa dilanjutkan. Namun jalanan menurun dan hujan tambah lebat.

Segelas teh manis panas, hm, sedap. Ujung jemari nampak kriput dan beregetar. Dua leupet dan dua gorengan, tak cukup menganjal perut. Saya pesan mie rebus. Ternyata si teteh warung kehabisan telur. Untungnya, saya membawa beb erapa butir telur.

Eh, hujan tambah ngecrek. Bertambah deras. Beberapa tukang ojeg menyarankan agar saya diloding pake Elf. “Paling sepuluh ribu sampai Pameungpeuk,” kata salah seorang tukang ojek.

Namun saya putuskan menginap di sana. Petugas Polsek Cikahurip (Ciparay),  Pak Bery dengan baik mengijinkannya. Setelah berganti baju, saya tidur di kursi panjang. Cukup nyaman berselimutkan sleeping bag. Di luar, hujan terus mengguyur. Bahkan saat terbangun jam dini hari hujan masih terdengar di atap genting kantor polisi. Sementara di para terdengar “gugurudugan” seperti tikus besar berkejaran.

Besoknya setalah subuh (25/12), jam lima lebih seperempat saya melanjutkan perjalanan. Masih cukup gelap. Sesekali melintas mobil elf dan truk besar. Sebelumnya pamitan pada pa Bery yang masih tidur. Ternyata 500 meter dari Polsek, saya memasuki wilayah gunung Gelap. Jalanan masih sangat sepi. Bunyi serangga malam masih terdengar. Terdengar suara celoteh berbagai burung. Lmbat-lambat terdengar seperti suara monyet.

Di Pameungpeuk, di pertigaan arah ke Pantai Santolo dan Miramare, berhenti untuk “nyabu” (nyarap bubur). Ada perasaan waswas untuk memasuki hamparan hutan karet di Miramare. Beberapa kali sebelum pergi, Anang mewanti-wanti agar hati-hati. Juga  Ayeng menyebutkan hal yang sama via SMS dan cal langsung. Katanya angker. Jika saja nyali saya ciut, mungkin akan balik lagi. Apalagi Anang dan Ayeng menyebutkan jaraknya masih jauh!

Saya hanya mengenal sedikit daerah ini. Pernah sekali memasuki ke hutan Sancang empat. Namun tak sampai menembus ke Cipatujah. Itupun perjalanan dengan menggunakan mobil.

Saat makan bubur, terlihat  langit nampak murung. Saya berharap jangan hujan. “Jangan-jangan akan kemalaman lagi di tengah jalan?” Ah, kumaha engke we-lah. Tapi harapan saya jangan sampai turun hujan tak terpenuhi. Malah saya mengira akan cerah. Seberkas cahaya matahari di depan terlihat. Hingga saya sempat mengabadikan sapi-sapi yang sedang merumput. Sempat juga berganti T-shirt. Suasana cukup sepi. Beberapa motor dan mobil lewat. Saat mampir ke sebuah warung untuk beli minum, cuaca di belakang berbeda jauh. Terlihat dinding awan hitam. Saya segera berteduh. Dengan perhitungan: jarang ada rumah disini! Untunglah ada tempat peristirahatan buruh penyadap karet.

Ini bukan hujan biasa. Tapi disertai angin dan petir. Untungnya perbekalan sudah saya bungkus dengan cover bag. Saya berpikir sambil berteduh: “Pasti Le Paimo, sang legendaris petualang sepeda pernah mengalami peristiwa yang lebih buruk lagi.”

Hampir jam sebelas, hujan mulai mereda. Tapi sebenarnya masih deras. Saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Segera saya ganti celana pendek yang kemarin masih basah. Dan tanpa kaos, tapi cukup dengan jersey hitam. Rasanya lebih enak dengan stelan begini. Air hujan tak mengendap di T-shirt, tapi langsung meluncur.

Bismilah….! Saya lanjutkan perjalanan dalam guyuran hujan. Hanya untungnya, medan yang dilalui bervariasi. Ada tanjakan juga turunan yang lumayan. Ini membuat saya tak kedinginan. Saya hanya fokus pada kayuhan. Tenaga jangan dipaksakan terkuras. Apalagi sampai kram. Bisa fatal.

Hore! Meski diguyur hujan tapi sampai juga di Cipatujah. Jam tangan digital menunjukan jam 13.17. Mengaso dulu di Mini market. Janjian bertemu dengan “Ider Alam” di rumah Jojo di Desa Padawaras. Dari arah pantai sekitar 7 km. Dengan medan tanjakannya seperti ke Bandrek. Artinya juga, saya harus balik arah. Sebab besoknya, jika akan ke Pangandaran kembali melalui jalan ini. Saya perkirakaan: rombongan Ider Alam sampai sekitar jam 7 malam. Hingga saya menunggu sambil ngobrol dengan kang Wahyu. Dia orang Tasik yang telah 8 tahun “ngumbara” di Palembang.

Rombongan Ider Alam, Anang, Yana, Pud, Bobi dan Hery (terakhir ini, baru saya kenal. Kata Yana: Hery yang menyebabkan terlambat, karena kelelahan waktu lewat Sodong. Malah tadinya akan menyerah dan menginap di rumah penduduk) baru nyampe hampir jam 11 malam! Saya saya sudah hampir tidur di rumah ke luarga Jojo.

Sementara Jojo datang jam semilan dengan pak Tri, goweser dari Seskoad. Dan Jojo langsung ke rumahnya yang berada di Lebak (di bawah). Akhirnya, saya hijrah ke rumah Jojo.

Besoknya, setelah sarapan saya dan pak Tri jalan bareng ke Cipatujah. Hanya saja, pak Tri akan mengambil arah ke pameungpeuk. Rute yang sehari sebelumnya saya jalani. Sedangkan saya ke Pangandaran.

Seperti perjalanan dengan Ayeng Hikmat, tak banyak rintangan dilalui. Pun dihutan Parigi tak perlu “ngebut” seperti saat bersepeda dengan  Ayeng, karena pas di daerah yang dianggap “angker”  menjelang malam. Sedangkan saya tiba disini hampir tengah hari. Panas matahari lagi-lagi, menguras tenaga.

Juga tak perlu menginap di kawasan “Kalapa Genep” seperti saat itu. Tiba

di Pangandaran lima menit sebelum adzan magrib. Hujan mengguyur dengan deras. Setelah reda, saya mencari penginapan yang biasa digunakan komunitas PSM Cycling jika turing ke Pangandaran.

Wawan Ikhwan

Topic:

Just For You