Di Balik Kemenangan Wali Kota Banjar

Sebetulnya tidak begitu mengherankan kemenangan telak yang diperoleh oleh pasangan Ade Uu Sukaesih-Darmadji Prawi­rasetia (Asih Kataji) dalam Pemililihan Wali Kota (Pil­walkot) Banjar. Survei-survei tentang elektabilitas dan pengenalan masyarakat pada pasangan Uu dan Darmadji selalu unggul jauh dibanding dengan pasangan yang lain. Pantas jika pasangan ini menurut hasil penghitungan cepat (quick count) Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pasangan Asih Kataji memperoleh suara sebanyak 67,48 persen.

Sementara pasangan Maman Suryaman-Wawan Ruswendi 17,61 persen, Ahmad Dimyati dan KH. Mu’in Abdurohim 8,82 persen, Herli Rusli-Wawan Gunawan 4,27 persen, dan Ijun-Muhamad Sodik 1,83 persen. Walaupun perolehan Uu tidak sebesar perolehan Dr. Herman pada tahun 2008 sebesar 92,17 persen dan masuk rekor Mu­sium Rekor Dunia Indonesia.

Ada beberapa hal yang menjadi faktor sangat mendukung kemenangan Uu Sukaesih, di antaranya: Pertama, sosok Doktor, dokter Herman sebagai tokoh yang membumi di Tatar Priangan. Doktor Herman berbeda dengan para tokoh Bupati/Wali Kota dan wakilnya di Ciamis dan Banjar. Selain Doktor Herman, sebetulnya para Bupati dan Wakil Bupati/Wali Kota bukanlah lahir dari proses pergerakan yang panjang di Tatar Priangan khususnya di Ciamis dan Banjar. Bupati/Wakil Bupati atau Wakil Wali Kota cenderung hanya punya nasib baik, datang ke Ciamis atau Banjar kemudian jadi Bupati atau Wakil Wali Kota.

Doktor Herman justru tokoh yang sejak Orde Baru sudah aral melintang dalam pergerakan perpolitikan di Ciamis (termasuk Banjar pada waktu itu di dalamnya). Selama menjadi aktifis politik sekaligus dokter, Doktor Herman memang politisi yang punya karakter. Salah satu sikapnya seringkali berseberangan dengan penguasa Orde Baru yang berakibat pada seringkali kehilangan jabatan politik. Tetapi ia tetap teguh pada pendiriaanya. Inilah generasi se­macam penulis dan di atas pe­nulis tentu mengikuti kete­guhan cara berpolitiknya Herman. Pantas jika siapapun yang diusung Herman pasti masyarakat mempercayainya sebagai calon yang baik dan berintegritas seperti dirinya.

Kedua, Uu didukung Wali Kota berkuasa atau inkumben/petahana. Semakin kuat setelah sosok Doktor Herman yang mengakar di masyarakat Banjar, dia juga Wali Kota yang banjir dengan segudang pres­tasi. Bahkan berbagai pres­tasinya melebihi prestasi seorang Gubernur fenomenal Jokowi. Misalnya tahun 2012 mendapat anugrah Tempo sebagai Bupati/Wali Kota Bukan Biasa dan sederet penghargargaan yang diterimanya dari presiden RI. Tetapi sesungguhnya Prestasi yang paling tingginya adalah tidak pernah dipanggil KPK atau Kejaksaan berurusan dengan masalah korupsi sehingga audit keuangan pemerintahan yang dipimpinannya selalu meraih predikat opini Wajar Tanpa Penge­cualian (WTP) dari BPK.

Selamat dari isu korupsi yang merupakan musuh bersama. Walaupun saya tidak yakin selama menjabat Wali Kota tidak ada kebijakan, tindakan, atau minimal perilaku koruptif di Kota Banjar. Prinsip kekuasaan sekecil apapun akan cenderung korupsi. Seperti pasangan suami istri, gula dan semut, ada kekuasaan pasti ada korupsi. Selain itu prestasi sesungguhnya terfenomenal Dr. Herman tidak pernah tersangkut isu perempuan, baik selingkuh atau nikah siri. Dr. Herman adalah sosok keluarga sakinah yang perlu diteladani oleh siapapun warga negara Indonesia.

Dengan dukungan petahana yang berintegritas dari luar dalam, amunisi, strategi, dan sekaligus suami istri Uu juga banyak diuntungkan. Dari mulai tidak perlu susah-susah sosialisasi untuk dikenal di tengah masyarakat Kota Banjar. Sepuluh tahun sebagai Ibu Ne­gara Kota Banjar Uu Sukaesih mendampingi Dr. Herman dan membaur dengan masyarakat. Berbagai kebijakan Dr. Her­man yang dianggap berhasil akan diyakini akan dapat ditingkatkan oleh pasangan Uu Sukaisih dan drg. Darmadji.

Tantangan

Walaupun segudang pres­tasi, ketokohan, dan integritas Dr. Herman sudah tidak diragukan lagi, tetapi ada sejumlah catatan atas terpilihnya Uu Sukaisih yang posisinya sebagai istri atau Ibu Negara kota Banjar. Terutama, kritikan atas tumbuh suburnya politik dinasti. Politik dinasti dalam khazanah politik adalah pelaksanaan demokrasi yang kurang sehat. Sebab distribusi kekuasaan akan hanya bergulir di kelompoknya saja. Im­plikasinya adalah lambatnya regenerasi kepemimpinan dan potensi terjadinya korupsi. Para teoretikus ilmu sosial menyebut power tends to corrupt, absolutely power tends to corrupt absolutely. Kekuasaan cenderung korupsi, dan kekuasaan yang mutlak akan sangat kuat kecenderungan korupsinya. Satu dasawarsa atau sepuluh tahun sebagai Ibu Negara sebetulnya memiliki waktu yang sama sebagai penguasa Kota Banjar. Jika ditambah lima tahun ke depan akan menjadi 15 tahun. Sebuah kekuasaan yang sangat absolut dan panjang. Potensi penyelewengan atas kekuasaan sangat mungkin terjadi. Sebab peluang dan kesempatan terbuka lebar untuk melakukan apa saja bagi pemerintahan di bawah Uu Sukaisih. Sistem dan jaringan yang telah tertata rapih dan ditancapkan Dr. Herman memungkinkan terjadinya berbagai penyelewengan kekuasaan.

Menghadapi berbagai tantangan tersebut, maka kepe­mimpinan Ade Uu Sukaisih harus melakukan lankah-langkah: Pertama, memimpin profesional. Jangan sampai tertukar Wali Kotanya masih Dr. Herman bukan Ibu Uu. Masyarakat Kota Banjar malah lebih kenal Dr. Herman bukan Uu Sukaesih sebagai Wali Kota. Kebijakan Wali Kota atau kebijakan suami? Praktiknya memang sulit dipisahkan. Tetapi minimal dalam performa Uu yang harus mendominasi dalam perjalanan pemerintahan menjadi amanahnya.

Kedua, menghindarkan kepentingan bisnis keluarga. Pengalaman runtuhnya seluruh level kekuasaan Orde Baru adalah para pejabat publik juga sekaligus penguasa dalam wilayah ekonomi. Kekuasaan memiliki motif berlapis. Mulai pesona kekuasaan, prestise, dan ekonomi menjadi satu sehingga kekuasaan tidak mengabdi pada masyarakat. Kekuasaan hanya untuk keluarga dan kelompoknya dengan motif penguasaan aset-aset ekonomi. Dampaknya walau­pun pemerintahan Orde Baru memiliki segudang prestasi, tetapi prestasi itu tidak ada maknanya di hadapan masyarakat karena kebijakan dan tindakan pengelolaan pemerintahnya bermotif keuntungan secara ekonomi sehingga korupsi sistemik terjadi di berbagai sektor kehidupan pemerintahan.

Ketiga, tunjukkan prestasi tanpa korupsi. Dalam dunia politik modern semacam Amerika Serikat, politik Dinasti juga terjadi. Misalnya dalam pemerintahan Obama Jilid 1 menunjuk Hilary Clinton sebagai Menteri Luar Negeri AS. Hilary adalah istri dari mantan Presiden AS Bill Clinton yang menjadi pendukung utama Obama. Selama memimpin Kementerian Luar Negeri AS, Hilary termasuk tokoh yang sukses membawa Amerika diterima oleh seluruh lapisan Negara di dunia muslim dan non muslim. Artinya berbagai kekhawatiran politik dinasti dan kekuasaan bermotif ekonomi dapat dijawab dengan sejumlah prestasi tanpa korupsi.

Akhirnya, saya berharap Hj. Ade Uu Sukaisih sebagai pemimpin perempuan pertama pilihan rakyat di Tatar Priang­an dapat menjadi pemimpin Kota Banjar yang berprestasi mendunia, membawa kesejahteraan masyarakatnya, dan menjadi Pemimpin kuat ber­pengaruh seperti Ratu Bilqis. Semoga, Amien.***

Sumadi
Penekun Masalah Kenegaraan dan Keagamaan; Dosen IAID Darussalam Ciamis

Source: Kabar Priangan

Topic:

Just For You