Pemprov Akan Mulai Lelang Pengelolaan TPPAS Legok Nangka

BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai melelangkan kembali pembangunan Tempat Pemrosesan dan Pemilahan Akhir Sampah (TPPAS) Legoknangka yang berlokasi di Cicalengka, Kabupaten Bandung. TPPAS itu dibangun untuk menampung sampah dari enam daerah sekitar yakni Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Garut, dan Sumedang.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil) mengatakan, pihaknya bersama lima daerah sudah menyepakati besaran pungutan yang akan diberlakukan saat beroperasinya TPPAS tersebut. Kesepakatan ini sangat diperlukan sebelum lelang teknologi dilakukan.

“Kita sepakati ulang kerjasama lima daerah, terkait siapnya TPPAS Legoknangka untuk dilelang. Dibutuhkan kesepahaman komitmen di antara kabupaten/kota,” kata Emil di Bandung, Rabu (9/10/2019).

Dia menjelaskan, kesepakatan ini menghasilkan besaran pungutan yang akan dibebankan kepada lima daerah. Nantinya, setiap kabupaten/kota akan mendapat subsidi 30% dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Menurut dia, telah disepakati pungutan untuk setiap ton sampah mencapai Rp386 ribu. “Nanti dibagi. 30% dari provinsi, sekitar Rp115.800. Sisanya dari kota/kabupaten,” katanya.

Selain memberi subsidi, menurut Emil pihaknya pun akan menyiapkan sentra penjemputan sampah dari setiap daerah. Ini diyakini akan memudahkan dan mengurangi beban biaya pengangkutan sampah dari masing-masing kabupaten/kota.

“Ada stasiun peralihan antara (SPA). Jadi yang mengangkut langsung ke Legoknangka, tidak truk-truk daerah, semacam ada rest areanya. Sehingga biaya APBD kota/kabupaten yang selama ini (untuk mengangkut dari) ujung ke ujung, bisa ditekan setengahnya,” katanya.

Lebih lanjut Emil katakan, pengurangan biaya terkait manajemen pengelolaan sampah ini sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018. Selain itu, dirinya pun akan mengeluarkan peraturan gubernur terkait pemberian insentif kepada daerah.

“Daerah-daerah yang berhasil mengurangi sampah, akan diberi insentif. Dalam bentuk dukungan dana dari provinsi,” katanya.

Dia menambahkan, TPPAS Sarimukti yang selama ini digunakan masa pakainya akan berakhir hingga 2023. Hal serupa pun terjadi di TPPAS Legoknangka jika tidak menggunakan teknologi.

“Legoknangka juga kalau konvensional, paling hanya empat tahun. Maka tak ada pilihan lain, manajemen pengelolan sampah harus segera beralih ke teknologi,” katanya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat Bambang Rianto mengatakan, kapasitas TPPAS Legoknangka mencapai 1.800-2.100 ton per harinya.

“Kota Bandung 1.200-1300, Kota Cimahi 150-250, Kabupaten Bandung 300-345, KBB 75-86, Sumedang 28-32, Garut 100-115 ton. Ini tak termasuk sampah industri dan medis,” katanya.

Menurut Bambang, nantinya sampah akan diolah menjadi listrik sehingga dipastikan fisiknya akan habis di TPPAS Legoknangka. Disinggung sistem SPA, menurutnya di tempat peralihan itu akan dilakukan juga pengemasan sampah yang akan dibawa ke TPPAS Legoknangka.

“Akan dipilah, terutama di-press. Jadi pengangkutan akan lebih kecil,” katanya seraya menyebut pihaknya akan membangun satu SPA. (Pun)

               

Topic:

Just For You