Senin, 27 Januari 2014, Upacara Adat Nyangku, Panjalu, Ciamis

Nyangku adalah suatu rangkaian prosesi adat penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora dan para Raja serta Bupati Panjalu penerusnya yang tersimpan di Pasucian Bumi Alit. Istilah Nyangku berasal dari kata bahasa Arab “yanko” yang artinya membersihkan, mungkin karena kesalahan pengucapan lidah orang Sunda sehingga entah sejak kapan kata yanko berubah menjadi nyangku.

Nyangku juga memiliki arti nyaangan laku (menerangi perilaku). Kalimat pendek yang mengandung makna luas itu dimanifestasikan masyarakat Panjalu Ciamis dalam upacara sakral dan unik. Acara ini diselenggarakan rutin tiap tahun pada bulan Maulud, tepatnya pada hari Senin atau Kamis di akhir bulan Maulud (Rabiul Awal). Bentuknya tidak jauh beda dengan sekaten di Yogyakarta atau panjang jimat di Cirebon, atau upacara serupa di daerah lain.

Dalam rangka mempersiapkan bahan-bahan untuk pelaksanaan upacara Nyangku ini pada jaman dahulu biasanya semua keluarga keturunan Panjalu menyediakan beras merah yang harus dikupas dengan tangan, bukan ditumbuk ataupun menggunakan mesin penggiling padi sebagaimana biasa. Beras merah ini akan digunakan untuk membuat tumpeng dan sasajen (sesaji). Pelaksanaan menguliti gabah merah dimulai sejak tanggal 1 Mulud sampai dengan satu hari sebelum pelaksanaan Nyangku serta masih banyak lagi prosesi yang dilakukan yang terlalu panjang lebar untuk penulis sampaikan.

Pada prosesi ini benda-benda pusaka itu dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di Pasucian Bumi Alit lalu dikirabkan menuju Nusa Larang Situ Lengkong. Sesampainya di Nusa Larang, arak-arakan melakukan ritual pembacaan doa bagi arwah leluhur Panjalu untuk menghormati jasa-jasa mereka di hadapan pusara Prabu Rahyang Kancana. Benda-benda pusaka itu kemudian diletakan diatas alas kasur yang khusus disediakan untuk upacara Nyangku ini.

Setelah itu, benda-benda pusaka diarak kembali dengan sangat hati-hati menuju tempat upacara. Benda-benda itu digendong, tak ubahnya menggendong anak bayi diiringi tetabuhan gembyung dan teriakan sholawat.

Rombongan yang terdiri dari tokoh masyarakat dan sesepuh Panjalu berjalan dalam deretan paling depan diiring pembawa benda pusaka dan penabuh kesenian gembyung. Ratusan pengiring lainnya berada dalam barisan paling belakang mengantarkan perjalanan benda pusaka tersebut ke tempat upacara di halaman kantor Desa Panjalu.

Puncak upacara, yang sekaligus merupakan saat yang paling dinantikan, ditandai dengan pembersihkan benda pusaka tersebut menggunakan air yang diambil dari sembilan sumber mata air berbeda yang diambil dari daerah yang berbeda yang dicampur jeruk nipis. Dimulai dengan pedang pusaka Prabu Sanghyang Borosngora dan dilanjutkan dengan pusaka-pusaka yang lain. Di bawah panggung bambu yang digunakan sebagai tempat mencuci benda-benda pusaka tersebut, ratusan penduduk mengulurkan tangannya, mengharapkan sisa air yang digunakan mencuci benda pusaka. Mungkin dan sangat boleh jadi mereka mengharapkan berkah di saat menghadapi lilitan kesulitan ekonomi dan berbagai macam bencana lainnya seperti sekarang ini.

Tahap akhir, setelah benda-benda pusaka itu selesai dicuci lalu diolesi dengan minyak kelapa yang dibuat khusus untuk keperluan upacara ini, kemudian dibungkus kembali dengan cara melilitkan janur (daun kelapa muda) lalu dibungkus lagi dengan tujuh lapis kain putih dan diikat dengan memakai tali dari benang putih (boeh). Setelah itu baru kemudian dikeringkan dengan asap kemenyan lalu diarak untuk disimpan kembali di Pasucian Bumi Alit.

Upacara Nyangku dimulai sekitar jam 07.00 WIB dengan mengeluarkan benda-benda pusaka peninggalan Raja Panjalu Borosngora, seperti pedang, keris, kujang dari Bumi Alit. Perlakuan khusus diberikan pada pedang yang konon merupakan pemberian Sayyidina Ali (sahabat Nabi Muhammad saw.) ketika Borosngora berkunjung ke Mekah. Borosngora, Raja Panjalu yang arif dan bijaksana dianggap sebagai leluhur masyarakat Panjalu dan penyebar agama Islam pertama di daerah Panjalu. Benda-benda peninggalannya selama ini tetap terjaga, disimpan dan dirawat dengan baik di Bumi Alit, bangunan kecil berbentuk panggung di dekat Alun-alun Panjalu.

Tradisi Nyangku ini mirip dengan upacara Sekaten di Yogyakarta juga Panjang Jimat di Cirebon, hanya saja selain untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, acara Nyangku juga dimaksudkan untuk mengenang jasa Prabu Sanghyang Borosngora yang telah menyampaikan ajaran Islam kepada rakyat dan keturunannya.

Tradisi Nyangku ini konon telah dilaksanakan sejak zaman pemerintahan Prabu Sanghyang Borosngora, pada waktu itu, Sang Prabu menjadikan prosesi adat ini sebagai salah satu media Syiar Islam bagi rakyat Panjalu dan sekitarnya.

Masyarakat Panjalu maupun keturunan Panjalu yang datang dari berbagai daerah berkumpul di kampung halamannya untuk menghadiri upacara tersebut. Upacara adat Nyangku merupakan penghormatan sebagai ungkapan terima kasih atas jasa-jasa leluhur Panjalu yang telah mendirikan negara dan menyebarkan ajaran agama Islam di tatar Galuh Ciamis di Panjalu.

Menurut cerita masyarakat Panjalu juga dituturkan bahwa Nyangku merupakan ungkapan terima kasih telah masuknya ajaran agama Islam ke wilayah Panjalu yang dibawa oleh seseorang bernama Sanghyang Borosngora

Seiring berkembangnya jaman dengan generasi masyarakat yang terus berlanjut kita sebagai generasi muda harus merasa khawatir apabila suatu saat nanti tradisi upacara Nyangku sebagai ungkapan penghormatan yang secara turun temurun diwariskan ini hilang karena terlindasnya oleh era globalisasi yang serba modern dan berkiblat ke Eropa atau budaya Barat.

Alangkah baiknya ini kita jadikan sebagai semangat dan dorongan bahwa budaya itu harus dimulai, kalau tidak dilaksanakan kegiatan ini, pada suatu saat budaya sejarah begitu indah hilang, dan kita akan kehilangan obor.

Nyangku PanjaluUpacara Nyangku tahun 2014 dilaksanakan pada :
Hari : Senin
Tanggal : 27 Januari 2014/ 25 Rabbiul Awwal 1435 H
Waktu : Jam 07.00 s/d selesai
Tempat : Taman Borosngora, Panjalu, Ciamis, Jawa Barat

Sumber: panjalu.desa.id

Topic:

Just For You