13 Kabupaten di Jabar Kasus Stunting Tinggi

ciamisnews
ciamisnews

BANDUNG-Gubernur Jawa Barat meminta kepada Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat untuk bisa menyebarluaskan program OMABA (Ojek Makanan Balita) ke seluruh wilayah di Jawa Barat yang berfungsi mengirim makanan-makanan bergizi bagi anak-anak bergizi buruk. 

“Kami titip ke ibu Atalia (Ketua TP PKK) Jabar, program OMABA itu harus disebarluaskan ke seluruh Jabar, kita investasi di motornya mengirim makanan-makanan bergizi untuk yang emergensi, yang gizi buruknya ekstrim,” ucap Gubernur, di acara Pencegahan Stunting tingkat Provinsi Jawa Barat, di Lapangan Gasibu, Bandung, Minggu (18/11).

Berdasarkan data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), di Jawa Barat sendiri tercatat ada 29,9% atau 2,7 juta balita yang terkena stunting. Menurut Gubernur, ada 13 kabupaten di Jawa Barat yang akan diintervensi program stunting untuk lebih maksimal. Tiga belas daerah dengan penderita terbanyak di Jawa Barat yang disinggung Emil, antara lain Kabupaten Garut (43,2%), Kabupaten Sukabumi (37,6%), Kabupaten Cianjur (35,7%), Kabupaten Tasikmalaya (33,3%), Kabupaten Bandung Barat (34,2%), Kabupaten Bogor (28,29%), Kabupaten Bandung (40,7%), Kabupaten Kuningan (42%), Kabupaten Cirebon (42,47%), Kabupaten Sumedang (41,08%), Kabupaten Indramayu (36,12%), Kabupaten Subang (40,47%), dan Kabupaten Karawang (34,87%).

“Garut adalah wilayah yang stuntingnya paling tinggi di Jabar, jadi artinya kalo kita bekerja fokus kepada yang paling membutuhkan, artinya karena stunting di Garut 43%, maka atensi dua tahun pertama tolong dilebihkan untuk kabupaten Garut. Diurut dari yang paling tinggi maka subsidi program juga diberikan dua kali lipat, satu setengah kali lipat, jangan disamaratakan, management samarata ini sudah saya hitung tidak menyelesaikan percepatan,” tuturnya.

Gubernur menyatakan, percepatan penurunan stunting ini dapat dimulai dengan pendidikan oleh ahli-ahli gizi melalui penyuluhan sederhana tapi bisa menjadi sebuah ilmu bagi masyarakat, kemudian degan memberikan suplemen gizi dan surveilans gizi.

“Stunting ini keliatannya di usia 2 tahun, jadi kalau dalam kandungannya kurang gizi akan berdampak pada anak, maksimalkan proses edukasi di media-media yang mudah dicapai di desa-desa melalui televisi dan radio,” tuturnya. (Parno)

               

Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *