CIAMISNEWS – Kepala SMA, SMK, dan SLB di Jawa Barat memastikan program revitalisasi satuan pendidikan dari pemerintah pusat dilaksanakan secara transparan dan berintegritas. Sarana dan prasarana yang telah direvitalisasi juga akan dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang proses pembelajaran.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Program Revitalisasi Satuan Pendidikan SMA, SMK, dan SLB Jawa Barat Tahun 2026 di Aula Ki Hajar Dewantara, Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat, Kota Bandung. Salah satu kepala sekolah yang menyampaikan komitmen tersebut adalah Kepala SMAN 1 Rancah, Sulastri Herdiani.
Sulastri mengatakan pihaknya berkomitmen menjalankan program sesuai petunjuk teknis (juknis) dan pakta integritas yang telah ditandatangani. Menurutnya, pelaksanaan revitalisasi harus disesuaikan dengan kondisi yang ada di lapangan.
“Kami berkomitmen menjalankan apa-apa yang berada di juknis itu sesuai dengan apa yang ada di lapangan,” ujar Sulastri usai mengikuti rapat koordinasi tersebut.
Ia mengatakan revitalisasi dibutuhkan karena sejumlah ruang kelas di SMAN 1 Rancah sebelumnya mengalami kerusakan. Kondisi tersebut antara lain terlihat pada lantai kelas yang pecah serta pintu dan jendela yang mengalami kerusakan.
“Kalau tidak segera diperbaiki akan mengganggu dan membuat pembelajaran tidak nyaman,” katanya.
Sulastri berharap ruang kelas yang telah direvitalisasi dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Ia juga berharap peningkatan sarana tersebut dapat mendukung peningkatan mutu pembelajaran di SMAN 1 Rancah.
“Mudah-mudahan, bangunan atau ruangan-ruangan kelas yang memang sudah direvitalisasi bisa dimanfaatkan maksimal untuk pembelajaran sehingga mutu pembelajaran di sekolah, terutama di SMAN 1 Rancah bisa lebih meningkat,” ujarnya.
RKB Dibutuhkan SMAN 2 Cikampek
Komitmen serupa disampaikan Wakil Kepala SMAN 2 Cikampek Bidang Sarana dan Prasarana, Priadi Tri Handoko. Ia menilai pembangunan ruang kelas baru (RKB) dan revitalisasi penting bagi sekolah yang saat ini memiliki 11 kelas.
Priadi menjelaskan, keterbatasan ruang selama ini membuat sejumlah laboratorium dialihfungsikan menjadi ruang kelas. Dengan adanya RKB, ruang laboratorium diharapkan dapat kembali dimanfaatkan sesuai fungsi semula.
“Kalau kami enggak dapat RKB, ruang-ruang lab itu jadi enggak bisa dimanfaatin. Jadi, ketika kita dapat RKB dan kemudian revitalisasi ini jalan, kita akan memanfaatkan ruang-ruang yang sudah tersedia sebelumnya,” ungkapnya.
Selain ketersediaan ruang, Priadi menekankan pentingnya integritas serta optimalisasi anggaran dalam pelaksanaan program revitalisasi. Salah satu pertimbangan yang disebutnya adalah pemilihan material bangunan yang sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah.
Menurut Priadi, SMAN 2 Cikampek memiliki tantangan tersendiri karena berada di kawasan yang berdekatan dengan industri. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan sekolah dalam perawatan dan pemeliharaan bangunan.
“Kebetulan SMAN 2 Cikampek punya tantangan karena kita di dekat asap pabrik. Kalau misalnya baja, genteng baja ringan, atau yang berbentuk seng dan lainnya, kita punya tantangan banget dalam perawatan dan pemeliharaan,” jelasnya.
Karena itu, sekolah memilih material atap yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi lingkungan. Priadi berharap pilihan tersebut dapat membuat bangunan lebih kuat sekaligus mengurangi kebutuhan pemeliharaan.
“Nah, ini kita coba atap yang lebih oke, dari onduline beratap aspal. Semoga lebih kuat dan perawatannya enggak begitu banyak,” tutupnya.