CIAMISNEWS — Bupati Ciamis Herdiat Sunarya menyerukan agar nilai-nilai perdamaian yang dikaitkan dengan sejarah Galuh terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi muda. Pesan tersebut disampaikan dalam Kirab Kebhinekaan dalam rangka milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan, Kabupaten Ciamis, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan jajaran kepolisian, Ketua Umum FSKM, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah beserta pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), pimpinan BUMN dan BUMD, pimpinan instansi vertikal, kepala desa, tokoh nasional, duta perdamaian, akademisi, budayawan, tokoh agama, tokoh masyarakat, seniman, serta pimpinan organisasi kemasyarakatan.
Herdiat mengatakan, peringatan Gong Perdamaian Dunia tahun ini menjadi momentum untuk kembali menguatkan pesan perdamaian, kebhinekaan, dan persatuan di tengah situasi dunia yang masih diwarnai berbagai konflik dan ketegangan politik.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi refleksi bersama bahwa perdamaian tidak datang dengan sendirinya, melainkan membutuhkan perjuangan, kesadaran, dan komitmen.
“Perdamaian bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari perjuangan, kesadaran, dan komitmen bersama,” ujar Herdiat.
Ia menegaskan, semangat perdamaian juga menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia. Hal itu tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat yang mengamanatkan Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Perdamaian Dikaitkan dengan Warisan Sejarah Galuh
Herdiat kemudian mengaitkan pesan perdamaian tersebut dengan sejarah Galuh. Menurutnya, masyarakat Galuh sejak masa lampau memiliki nilai yang menjunjung tinggi persatuan, persaudaraan, dan perdamaian.
Ia menyebut sejarah Galuh pada abad ke-8, termasuk peristiwa yang dikenal sebagai Perjanjian Galuh tahun 739 Masehi, sebagai salah satu jejak penting nilai perdamaian di tanah Galuh.
“Galuh atau Ciamis adalah daerah yang cinta damai, begitu menghormati persahabatan, pertemanan dan persaudaraan. Maka sudah sewajarnya kita sebagai generasi penerus terus memelihara dan memperjuangkan warisan leluhur tersebut,” katanya.
Herdiat menilai nilai-nilai tersebut tidak semestinya berhenti sebagai cerita sejarah. Menurutnya, nilai perdamaian perlu dihidupkan dalam kehidupan masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.
Herdiat Minta Gong Perdamaian Dunia Tak Sekadar Seremonial
Selain diwariskan kepada generasi muda, Herdiat menilai pesan perdamaian dari Ciamis dapat disuarakan ke tingkat yang lebih luas. Ia berharap keberadaan Gong Perdamaian Dunia tidak berhenti pada kegiatan seremonial setiap tahun.
“Jangan hanya seremonial seperti ini, tetapi harus terus ada manfaatnya untuk masyarakat Kabupaten Ciamis,” tegasnya.
Herdiat juga mendorong Ciamis menjadi tempat pertemuan dan pembelajaran mengenai perdamaian. Ia berharap para duta besar negara sahabat di Indonesia dapat turut diundang ke Ciamis untuk melihat langsung nilai sejarah dan budaya perdamaian yang diwariskan masyarakat Galuh.
“Dari Ciamis kita harus bisa dan mampu menciptakan ketertiban dunia. Insyaallah tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mempunyai keinginan dan kemauan yang tinggi,” ujarnya.
Herdiat Soroti Dampak Konflik di Berbagai Negara
Herdiat menambahkan, konflik yang terjadi di berbagai negara tidak hanya berdampak kepada negara yang terlibat peperangan.
Menurutnya, dampak konflik juga dapat dirasakan masyarakat di negara lain, termasuk melalui gejolak ekonomi dan kenaikan harga berbagai kebutuhan.
Karena itu, ia menilai upaya membangun perdamaian harus dilakukan secara konsisten dan dimulai sejak usia dini.
“Jadikan Ciamis sebagai rumah nilai perdamaian, tempat belajar sejarah untuk membangun masa depan yang harmonis. Kita menyuarakan Galuh di dunia bahwa perdamaian adalah warisan sekaligus perjuangan,” katanya.
Herdiat kemudian menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam meneruskan nilai tersebut.
“Semai nilai perdamaian Galuh kepada generasi muda agar kelak mereka menjadi pewaris damai, bukan pewaris konflik,” pungkasnya.