CIAMISNEWS– September 2026 menjadi salah satu bulan yang menarik bagi masyarakat dan wisatawan yang ingin mengenal Kabupaten Ciamis lebih dekat. Bukan hanya karena panorama alamnya, tetapi karena pada bulan ini sejumlah tradisi, sejarah, seni, dan potensi ekonomi lokal hadir dalam rangkaian agenda budaya di berbagai wilayah.
Sedikitnya terdapat empat agenda Ciamis yang masuk dalam Calendar of Events Jawa Barat September 2026, yakni Nyiar Lumar pada 5 September, Upacara Adat Nyangku pada 7 September, Milangkala Gong Perdamaian Dunia pada 9 September, serta Festival Coffee Rajadesa Art and Culture pada 26–27 September 2026. Kalender tersebut juga dipublikasikan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat sebagai bagian dari agenda unggulan pariwisata dan budaya Jawa Barat.
Empat kegiatan itu memiliki karakter yang berbeda.
Nyiar Lumar membawa masyarakat menyelami hubungan antara seni, sejarah, dan situs Astana Gede Kawali. Nyangku mempertahankan tradisi leluhur Panjalu yang sarat nilai sejarah dan spiritual. Gong Perdamaian Dunia menghadirkan pesan tentang toleransi, persaudaraan, dan perdamaian. Sementara Festival Coffee Rajadesa Art and Culture mempertemukan kopi lokal, seni, budaya, dan potensi ekonomi masyarakat desa.
Jika dirangkai sebagai sebuah perjalanan, keempat agenda tersebut sesungguhnya menggambarkan satu wajah Ciamis: daerah yang berusaha menjaga warisan masa lalu sembari menjadikannya sumber pengetahuan, kebanggaan, dan penggerak ekonomi masyarakat.
Nyiar Lumar: Mencari Cahaya dari Jejak Sejarah Kawali
Sabtu, 5 September 2026
Eks Pendopo Kawali dan Situs Astana Gede Kawali
Awal September dibuka dengan Nyiar Lumar, agenda seni budaya yang memiliki hubungan erat dengan kawasan bersejarah Kawali.
Pada 2026, Nyiar Lumar kembali digelar setelah pelaksanaan sebelumnya pada 2022. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026 di kawasan Eks Pendopo Kawali dan Situs Astana Gede Kawali. Informasi tersebut juga tercantum dalam kalender event resmi Jawa Barat September 2026.
Bagi masyarakat Ciamis, Nyiar Lumar bukan sekadar pertunjukan seni.
Kegiatan ini lahir dari kesadaran untuk menghadirkan kembali sejarah dan kebudayaan dalam bentuk yang dekat dengan masyarakat. Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat mencatat bahwa Nyiar Lumar pertama kali diselenggarakan pada 1998 dan mengambil tempat di kawasan Kawali serta Situs Astana Gede.
Pemilihan Astana Gede bukan tanpa alasan. Kawali memiliki posisi penting dalam sejarah Sunda-Galuh. Kawasan tersebut menyimpan peninggalan sejarah, termasuk prasasti-prasasti yang menjadi sumber penting dalam memahami masa lalu Tatar Galuh.
Dalam pelaksanaannya, Nyiar Lumar secara khas membawa peserta dari kawasan pusat Kawali menuju Situs Astana Gede. Tradisi perjalanan malam dengan cahaya obor menjadi salah satu elemen yang memberi karakter kuat pada kegiatan ini. Dalam dokumentasi Balai Bahasa Jawa Barat, rangkaian Nyiar Lumar mencakup bagian seperti Ngawalan, Lalampahan, dan Magelaran, dengan seni pertunjukan sebagai bagian dari keseluruhan perhelatan.
Nama Nyiar Lumar sendiri menyimpan simbolisme. Nyiar berarti mencari, sementara lumar berkaitan dengan cahaya yang berpendar. Dalam konteks kebudayaan, gagasan tersebut dapat dibaca sebagai perjalanan mencari cahaya pengetahuan melalui jejak masa lalu.
Spirit tersebut juga dikaitkan dengan amanat Prabu Wastu yang terdapat dalam Prasasti Kawali I. Karena itu, Nyiar Lumar memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar festival seni: ia merupakan cara masyarakat menghidupkan kembali pesan sejarah melalui seni dan pengalaman bersama.
Ketika situs sejarah menjadi ruang belajar
Hal menarik dari Nyiar Lumar adalah kemampuannya menjadikan situs sejarah sebagai ruang interaksi.
Sejarah tidak hanya dibaca dalam buku. Masyarakat dapat datang langsung ke ruang yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah Tatar Galuh, menyaksikan seni, mendengarkan narasi budaya, dan merasakan atmosfer situs pada malam hari.
Di sinilah Nyiar Lumar memiliki nilai pendidikan yang kuat.
Sebuah kajian akademik mengenai Nyiar Lumar juga melihat kegiatan tersebut sebagai ruang pendidikan seni informal yang mengandung nilai sejarah, estetika, dan etika.
Karena berlangsung di kawasan situs bersejarah, pengunjung perlu menjaga lingkungan dan peninggalan yang ada. Jangan menaiki, menyentuh, atau merusak benda bersejarah dan selalu mengikuti ketentuan pengelola serta panitia.
Nyangku Panjalu: Tradisi Leluhur yang Terus Dihidupkan
Senin, 7 September 2026
Alun-alun/Taman Borosngora, Panjalu
Belum selesai atmosfer budaya di Kawali, dua hari kemudian masyarakat Ciamis kembali berhadapan dengan tradisi yang memiliki akar sejarah kuat: Upacara Adat Nyangku Panjalu.
Puncak Nyangku 2026 dijadwalkan pada Senin, 7 September 2026, bertepatan dengan 25 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Pemerintah Desa Panjalu juga telah mempublikasikan persiapan pelaksanaan tradisi tersebut.
Nyangku merupakan tradisi tahunan masyarakat Panjalu yang berkaitan dengan pencucian dan penyucian benda-benda pusaka peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora serta para leluhur Panjalu.
Dalam dokumentasi Pemerintah Desa Panjalu, tradisi ini memiliki akar sejarah yang dikaitkan dengan Kerajaan Panjalu dan sosok Prabu Sanghyang Borosngora. Nyangku juga menjadi sarana untuk mengenang jasa para leluhur sekaligus mempertahankan warisan budaya masyarakat Panjalu.
Sementara Galuh Virtual milik Pemerintah Kabupaten Ciamis mencatat bahwa prosesi Nyangku mencakup perawatan sejumlah benda pusaka yang diwariskan leluhur Panjalu dan diawali dengan arak-arakan pusaka menuju Alun-Alun Panjalu.
Makna Nyangku
Istilah Nyangku memiliki lebih dari satu penjelasan yang berkembang di masyarakat.
Salah satunya menghubungkan Nyangku dengan kata yanko dalam bahasa Arab yang bermakna membersihkan. Penafsiran lain mengaitkannya dengan ungkapan Sunda nyaangan laku, yang berarti menerangi perilaku.
Kedua penafsiran tersebut bertemu pada satu gagasan besar: pembersihan dan introspeksi diri.
Pemerintah Desa Panjalu menjelaskan bahwa tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan benda pusaka, tetapi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk melakukan refleksi terhadap perilaku yang tidak sesuai dengan norma agama dan adat.
Dengan demikian, Nyangku mempunyai lapisan makna yang kuat: sejarah, agama, penghormatan terhadap leluhur, kebersamaan, dan pendidikan karakter.
Nyangku bukan sekadar tontonan
Bagi wisatawan, penting memahami bahwa Nyangku merupakan upacara adat yang memiliki sifat sakral.
Menyaksikan prosesi boleh menjadi pengalaman wisata budaya, tetapi penghormatan terhadap adat harus menjadi prioritas. Pengunjung sebaiknya tidak mengganggu jalannya ritual, tidak sembarangan mengambil gambar pada bagian prosesi yang dibatasi, serta mengikuti arahan panitia dan masyarakat setempat.
Pada 2026, Pemerintah Desa Panjalu juga menyebut pelaksanaan Nyangku sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan tradisi di tengah perkembangan zaman.
Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia: Pesan Damai dari Karangkamulyan
Rabu, 9 September 2026
Situs Bojong Galuh Karangkamulyan
Dua hari setelah Nyangku, rangkaian budaya Ciamis berlanjut di kawasan Situs Bojong Galuh Karangkamulyan melalui Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia.
Tanggal 9 September menjadi momentum penting karena Gong Perdamaian Dunia di Karangkamulyan diperingati setiap tahun. Pada 9 September 2025, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat pelaksanaan milangkala ke-16 di Situs Bojong Galuh Karangkamulyan. Karena itu, agenda 9 September 2026 merupakan milangkala ke-17.
Keberadaan gong tersebut memiliki pesan yang jauh melampaui bentuk fisiknya.
Profil pariwisata Kabupaten Ciamis menyebut Gong Perdamaian Dunia di kawasan Karangkamulyan memiliki diameter sekitar 3,3 meter, dihiasi simbol bendera negara-negara dunia dan simbol agama. Gong tersebut dimaknai sebagai lambang perdamaian, persaudaraan, dan pelestarian alam.
Lokasinya pun memiliki konteks sejarah yang kuat.
Karangkamulyan merupakan kawasan situs yang berkaitan erat dengan sejarah Galuh. Penempatan Gong Perdamaian Dunia di kawasan tersebut dimaksudkan untuk menghubungkan narasi sejarah lokal dengan pesan perdamaian universal.
Pada peringatan milangkala ke-16 tahun 2025, misalnya, pesan mengenai persaudaraan dan toleransi kembali ditegaskan. Gong tersebut dipandang sebagai simbol kebersamaan dan perdamaian universal.
Dari sejarah lokal menuju nilai universal
Di sinilah menariknya Gong Perdamaian Dunia.
Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat sebuah monumen berukuran besar. Mereka juga diajak membaca kembali sejarah lokal dan menghubungkannya dengan persoalan kehidupan yang lebih luas.
Perdamaian bukan hanya isu internasional.
Ia dimulai dari lingkungan terdekat: keluarga, sekolah, komunitas, desa, hingga kehidupan berbangsa.
Karangkamulyan dengan demikian dapat menjadi ruang pembelajaran tentang sejarah sekaligus pendidikan nilai.
Festival Coffee Rajadesa Art and Culture: Ketika Kopi Menjadi Identitas Desa
26–27 September 2026
Desa Wisata Bambu Purwaraja, Rajadesa
Menutup rangkaian event Ciamis September 2026, ada agenda yang tidak kalah menarik: Festival Coffee Rajadesa Art and Culture.
Festival ini dijadwalkan berlangsung pada 26–27 September 2026 dan masuk dalam Calendar of Events Jawa Barat September 2026.
Festival Kopi Rajadesa bukan kegiatan yang muncul tiba-tiba.
Penyelenggaraannya telah berlangsung beberapa tahun dan menjadi ruang untuk memperkenalkan kopi Rajadesa sekaligus memadukannya dengan seni dan kebudayaan lokal.
Pada penyelenggaraan 2024, festival tersebut telah memasuki tahun kelima. Kegiatan itu diinisiasi oleh Paguyuban Seni Sunda Tunas Muda Purwaraja bersama unsur pemerintah daerah dan digelar di kawasan Purwaraja, Rajadesa.
Tujuan utamanya bukan hanya memperkenalkan kopi.
Festival juga menjadi ruang promosi potensi seni, kerajinan, dan ekonomi masyarakat.
Visit Ciamis mencatat festival ini menampilkan berbagai kopi lokal, dengan jenis robusta sebagai salah satu yang dominan, serta terdapat pula kopi arabika. Pengunjung dapat mencicipi kopi sekaligus menyaksikan keterampilan para peracik kopi.
Yang membuat festival semakin menarik adalah unsur Art & Culture.
Dalam penyelenggaraan sebelumnya, sejumlah kesenian tradisional turut ditampilkan, antara lain jaipong, gamelan, dongeng Sunda, Lais, Ronggeng Lontang, Helaran Mabokuy, musik etnik, dan berbagai bentuk kolaborasi seni.
Dengan demikian, kopi menjadi pintu masuk untuk mengenalkan identitas budaya yang lebih luas.
Dari kebun kopi ke ekonomi kreatif
Festival Kopi Rajadesa menunjukkan bagaimana sebuah komoditas lokal dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata.
Petani tidak hanya menjadi produsen. Mereka dapat menjadi bagian dari cerita wisata.
Kopi tidak hanya dijual sebagai minuman. Ia dapat diperkenalkan melalui pengalaman, edukasi, festival, seni, dan budaya.
Desa pun tidak hanya menjadi lokasi kegiatan. Desa dapat menjadi destinasi.
Inilah semangat pariwisata berbasis masyarakat yang membuat Festival Coffee Rajadesa memiliki nilai strategis bagi pengembangan ekonomi lokal.
Empat Event, Empat Cara Mengenal Ciamis
Jika keempat agenda tersebut dilihat secara utuh, terlihat bahwa masing-masing memiliki pintu masuk berbeda untuk mengenal Ciamis.
Nyiar Lumar membawa kita kepada sejarah dan seni.
Nyangku memperkenalkan tradisi, nilai spiritual, dan penghormatan terhadap leluhur.
Gong Perdamaian Dunia mengajak masyarakat memahami nilai toleransi dan persaudaraan.
Sementara Festival Coffee Rajadesa Art and Culture memperlihatkan hubungan antara komoditas lokal, seni, budaya, dan ekonomi kreatif.
Keempatnya seperti kepingan yang menyusun satu gambaran besar mengenai Kabupaten Ciamis.
Ciamis bukan hanya tentang tempat wisata.
Ciamis adalah tentang cerita.
Cerita tentang Galuh. Cerita tentang leluhur. Cerita tentang masyarakat yang mempertahankan tradisi. Cerita tentang seni yang terus berkembang. Dan cerita tentang bagaimana potensi lokal dapat menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.
Kalender Event Kabupaten Ciamis September 2026
Tanggal Event Lokasi Fokus Utama 5 September 2026Nyiar Lumar Eks Pendopo Kawali & Situs Astana Gede Kawali Sejarah, seni, budaya Sunda 7 September 2026Upacara Adat Nyangku Taman/Lapang Borosngora, Panjalu Tradisi adat, pusaka, sejarah 9 September 2026Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia Situs Bojong Galuh Karangkamulyan Perdamaian, toleransi, sejarah 26–27 September 2026Festival Coffee Rajadesa Art and Culture Desa Wisata Bambu Purwaraja, Rajadesa Kopi, seni, budaya, ekonomi lokal
Keempat agenda tersebut tercantum dalam kalender event unggulan Jawa Barat September 2026 yang dipublikasikan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.
Event Budaya sebagai Ruang Pendidikan
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika berbicara tentang event budaya: nilai pendidikannya.
Padahal, budaya merupakan sumber pengetahuan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
Anak-anak dapat belajar sejarah ketika mengunjungi Astana Gede Kawali.
Mereka dapat belajar mengenai tradisi dan nilai karakter ketika memahami Nyangku.
Mereka dapat belajar toleransi dan perdamaian ketika mengenal filosofi Gong Perdamaian Dunia.
Mereka dapat belajar mengenai pertanian, kewirausahaan, ekonomi kreatif, dan potensi desa ketika berkunjung ke Festival Kopi Rajadesa.
Dengan demikian, event budaya dapat menjadi ruang belajar di luar kelas.
Pembelajaran semacam ini membuat generasi muda tidak hanya mengetahui nama sebuah tradisi, tetapi juga memahami mengapa tradisi tersebut ada, nilai apa yang terkandung di dalamnya, siapa yang menjaganya, dan bagaimana warisan itu dapat diteruskan.
Pendidikan Berbasis Kebudayaan di Kabupaten Ciamis
Pada titik inilah gagasan pendidikan berbasis kebudayaan di Kabupaten Ciamis menjadi semakin penting.
Pendidikan berbasis kebudayaan bukan sekadar memasukkan materi budaya lokal ke dalam pembelajaran. Lebih jauh, pendekatan tersebut dapat menempatkan sejarah, situs budaya, tradisi, seni, bahasa, kearifan lokal, dan potensi ekonomi masyarakat sebagai sumber belajar yang hidup.
Ciamis memiliki modal yang besar untuk mengembangkan pendekatan tersebut.
Situs-situs sejarah dapat menjadi laboratorium pembelajaran sejarah. Upacara adat dapat menjadi media pendidikan karakter. Seni tradisional dapat menjadi ruang pengembangan kreativitas. Festival kopi dapat menjadi sarana mengenal pertanian, kewirausahaan, ekonomi kreatif, dan pengelolaan desa wisata.
Dengan cara pandang seperti itu, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pelaku seni atau masyarakat adat.
Sekolah, keluarga, pemerintah, komunitas, perguruan tinggi, pelaku pariwisata, dan generasi muda dapat menjadi bagian dari ekosistem pelestarian.
Sebab, kebudayaan akan terus hidup apabila generasi penerus tidak hanya melihatnya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi memahami, mengalami, mencintai, dan mampu mengembangkannya.
Bukan Sekadar Datang, tetapi Memahami
Bagi wisatawan, September 2026 dapat menjadi waktu yang tepat untuk menjelajahi Ciamis melalui jalur budaya.
Namun, perjalanan tersebut akan jauh lebih bermakna apabila wisatawan tidak datang hanya untuk mengambil foto.
Datanglah untuk mendengarkan cerita.
Datanglah untuk memahami tradisi.
Datanglah untuk menghargai masyarakat.
Dan datanglah untuk mendukung ekonomi lokal.
Jika menghadiri Nyangku, hormati kesakralan ritual.
Jika mengunjungi Astana Gede atau Karangkamulyan, jagalah situs dan lingkungan.
Jika datang ke Festival Kopi Rajadesa, dukung petani dan pelaku UMKM.
Dengan cara tersebut, wisata budaya tidak berhenti pada aktivitas konsumsi, tetapi menjadi bentuk partisipasi dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan.
September 2026 dan Wajah Ciamis yang Terus Hidup
Empat agenda budaya pada September 2026 memperlihatkan bahwa identitas Ciamis masih hidup dan terus berkembang.
Pada 5 September, cahaya Nyiar Lumar membawa masyarakat menyusuri jejak sejarah Kawali.
Pada 7 September, Nyangku mengingatkan pentingnya menghormati leluhur dan melakukan refleksi diri.
Pada 9 September, Gong Perdamaian Dunia menyuarakan pesan toleransi dan persaudaraan dari Karangkamulyan.
Kemudian pada 26–27 September, aroma kopi Rajadesa berpadu dengan seni dan budaya dalam sebuah festival yang mengangkat potensi desa.
Empat agenda tersebut memiliki bentuk berbeda, tetapi semuanya bertemu pada satu tujuan besar: menjaga identitas dan menghidupkan potensi Ciamis melalui kebudayaan.
Maka September 2026 bukan sekadar kalender event.
Ia adalah kesempatan untuk membaca kembali Ciamis melalui sejarah, tradisi, seni, masyarakat, dan potensi lokalnya.
Sebab daerah yang kuat bukan hanya daerah yang memiliki banyak destinasi, tetapi daerah yang mengenal akar budayanya, mampu menceritakan sejarahnya, menjaga warisan leluhurnya, dan mewariskan nilai-nilai tersebut kepada generasi berikutnya.
Dan dari sanalah pendidikan berbasis kebudayaan di Kabupaten Ciamis menemukan maknanya: menjadikan kebudayaan bukan sekadar warisan yang disimpan, melainkan sumber pengetahuan yang terus dipelajari, dihidupkan, dan diwariskan untuk membentuk generasi Ciamis yang berkarakter serta berakar kuat pada identitas daerahnya.