Ekonomi Jawa Barat Triwulan II 2026 Tumbuh 5,73 Persen, Kemiskinan Turun Jadi 6,54 Persen

ciamisnews
ciamisnews

CIAMISNEWS — Ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2026 tumbuh 5,73 persen secara year on year (y-o-y) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen pada periode yang sama.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menyampaikan pertumbuhan ekonomi tersebut dalam Rilis Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Barat di Kantor BPS Jawa Barat, Rabu (5/8/2026).

Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 18,28 persen secara tahunan.

Sementara dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 40,24 persen.

Industri Pengolahan Jadi Sumber Pertumbuhan Terbesar

BPS Jawa Barat mencatat, penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi atau source of growth (SOG) Jawa Barat pada triwulan II 2026 secara year on year paling besar berasal dari Industri Pengolahan.

Sektor tersebut memberikan sumbangan positif sebesar 1,96 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Barat.

Dari sisi pengeluaran, kontribusi positif terbesar berasal dari Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga dengan andil sebesar 3,03 persen.

Data tersebut menunjukkan peran aktivitas industri dan konsumsi rumah tangga dalam menopang pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2026.

Ekonomi Jawa Barat Tumbuh 2,25 Persen Secara Kuartalan

Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2026 juga mencatat pertumbuhan positif.

Secara quarter to quarter (q-to-q), ekonomi Jawa Barat tumbuh 2,25 persen dibandingkan triwulan I 2026.

Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi kembali dicatat oleh Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib, yakni sebesar 12,67 persen.

Adapun dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) yang tumbuh 7,96 persen.

Persentase Penduduk Miskin Jawa Barat Turun

Selain pertumbuhan ekonomi, BPS Jawa Barat juga mencatat penurunan tingkat kemiskinan.

Persentase penduduk miskin di Jawa Barat pada Maret 2026 tercatat sebesar 6,54 persen. Angka tersebut turun 0,24 persen poin dibandingkan September 2025 dan turun 0,49 persen poin dibandingkan Maret 2025.

Jumlah penduduk miskin Jawa Barat pada Maret 2026 mencapai 3,44 juta orang. Jumlah tersebut berkurang 114,23 ribu orang dibandingkan September 2025 dan berkurang 218,27 ribu orang dibandingkan Maret 2025.

“Jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 sebanyak 3,44 juta orang, berkurang 114,23 ribu orang terhadap September 2025 dan berkurang 218,27 ribu orang terhadap Maret 2025,” kata Margaretha.

Pernyataan tersebut disampaikan Margaretha dalam acara Rilis Berita Resmi Statistik Provinsi Jawa Barat di Kantor BPS Jawa Barat, Rabu (5/8/2026).

Garis Kemiskinan Jawa Barat Rp609.790 per Kapita per Bulan

BPS Jawa Barat juga mencatat Garis Kemiskinan pada Maret 2026 sebesar Rp609.790 per kapita per bulan.

Dari angka tersebut, Garis Kemiskinan Makanan mencapai Rp454.174, atau sekitar 74,48 persen. Sementara Garis Kemiskinan Nonmakanan tercatat sebesar Rp155.616, atau 25,52 persen.

Menurut Margaretha, penurunan persentase penduduk miskin Jawa Barat didorong oleh sejumlah faktor, salah satunya semakin luasnya kesempatan kerja.

“Penurunan persentase penduduk miskin didorong oleh berbagai faktor, salah satunya kesempatan kerja semakin meluas,” ujar Margaretha.

Ia mengatakan, serapan tenaga kerja yang bertambah 205,31 ribu orang dari Februari 2026 hingga Mei 2026 berdampak terhadap peningkatan pendapatan keluarga sehingga daya beli tetap stabil.

Tingkat Kemiskinan Jawa Barat Cenderung Menurun

Secara umum, BPS mencatat tingkat kemiskinan Jawa Barat selama periode Maret 2021 hingga Maret 2026 menunjukkan tren penurunan, baik dari sisi jumlah maupun persentase penduduk miskin.

Namun, terdapat pengecualian pada Maret 2022. Pada periode tersebut, jumlah dan persentase penduduk miskin mengalami peningkatan yang disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar minyak.

Setelah itu, pemulihan kondisi perekonomian pascapandemi Covid-19 berjalan seiring dengan penurunan tingkat kemiskinan di Jawa Barat. Tren penurunan tersebut berlanjut dari Maret 2022 hingga Maret 2026.

Dengan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat sebesar 5,73 persen pada triwulan II 2026 dan penurunan persentase penduduk miskin menjadi 6,54 persen pada Maret 2026, kedua indikator tersebut menjadi bagian dari gambaran perkembangan perekonomian dan kondisi sosial Jawa Barat sepanjang periode tersebut.

Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *