CIAMISNEWS — Tradisi Nyiar Lumar 2026 kembali digelar di Kawasan Situs Cagar Budaya Astana Gede Kawali, Kabupaten Ciamis, Sabtu malam, 5 September 2026, setelah sempat tidak dilaksanakan pada 2020 dan 2024. Ribuan pengunjung memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan gelaran budaya yang telah berlangsung sejak 1998.
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya turut hadir dalam kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kolaborasi seniman, budayawan, tokoh masyarakat, serta berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Nyiar Lumar 2026.
“Sinergi dan semangat gotong royong yang ditunjukkan malam ini sangat luar biasa. Nyiar Lumar bukan sekadar perayaan lokal, melainkan aset wisata budaya yang harus terus kita rawat. Ke depan, mari kita kemas bersama agar daya tariknya semakin meningkat dan mampu mendatangkan wisatawan berskala lebih besar lagi,” tegas Herdiat.
Penyelenggaraan Nyiar Lumar 2026 juga diwarnai keterlibatan generasi muda. Berdasarkan laporan perwakilan panitia, Abah Ocay, sebanyak 18 pagelaran kesenian disuguhkan dalam kegiatan tersebut dengan melibatkan sekitar 300 pelajar tingkat SD hingga SMA/SMK se-Kecamatan Kawali.
Keterlibatan ratusan pelajar tersebut menjadi bagian dari upaya menjadikan Nyiar Lumar sebagai ruang edukasi sejarah yang hidup bagi generasi muda. Regenerasi juga disebut berjalan dalam proses pelestarian budaya melalui kegiatan tersebut.
Dimaknai sebagai Perjalanan Spiritual
Nyiar Lumar memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan pencarian jati diri dan perenungan terhadap kejayaan masa lalu, khususnya peradaban Kerajaan Galuh.
Kata “nyiar” berarti mencari, sedangkan “lumar” merujuk pada jamur bercahaya. Keduanya dimaknai sebagai simbol perjalanan spiritual dalam mencari jati diri.
Tradisi tersebut telah menjadi agenda rutin sejak 1998. Namun, pelaksanaannya sempat terhenti pada 2020 dan 2024 sebelum kembali digelar pada 2026.
Kementerian Kebudayaan Soroti Potensi Situs Ciamis
Pelestarian budaya melalui Nyiar Lumar 2026 turut mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Staf Khusus Kementerian Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Anissa Rengganis, hadir mewakili Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Anissa memuji konsistensi masyarakat Ciamis dalam merawat tradisi. Ia juga menyoroti keberadaan sekitar 1.200 situs bersejarah di Ciamis yang menjadi dasar penyebutan daerah tersebut sebagai “kota seribu situs”.
Menurut Anissa, jejak peradaban Kerajaan Sunda Galuh di Ciamis memiliki narasi kuat yang perlu terus digaungkan. Kementerian Kebudayaan, kata dia, mendorong langkah strategis daerah dan menunggu inisiatif pengajuan pendaftaran situs-situs di Ciamis agar dapat masuk ke dalam prioritas nasional.
Bagi Pemerintah Kabupaten Ciamis, keberlanjutan Nyiar Lumar membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Pemerintah daerah berharap kegiatan tersebut terus dirawat dan dikembangkan melalui evaluasi serta perbaikan dalam pengemasannya.
Upaya tersebut diarahkan agar Nyiar Lumar tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat lokal, tetapi juga berkembang sebagai daya tarik wisata budaya yang mampu mendatangkan pengunjung dari luar daerah.
Nyiar Lumar 2026 Kembali Digelar, Bupati Ciamis Dorong Astana Gede Kawali Jadi Daya Tarik Wisata Budaya
Leave a comment