PMII Kabupaten Ciamis Dorong Budaya Kritik Solutif melalui FGD Kebijakan Publik

ciamisnews
ciamisnews

CIAMISNEWS.COM – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Ciamis menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mahasiswa dan Kebijakan Publik: Merawat Kritik yang Solutif dan Berintegritas” di Gedung Jenderal Soedirman, Kampus Universitas Islam Darussalam (UID), Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat budaya kritik mahasiswa yang objektif, berbasis data, dan didukung kajian ilmiah sebagai bagian dari pengawalan terhadap kebijakan publik.

FGD menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis Dr. Andang Firman Triyadi, Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Ciamis Mohammad Ijuddin, akademisi Fahmy Farid Purnama, serta Ketua PC PMII Kabupaten Ciamis Husni Mubarok.


Ketua PC PMII Kabupaten Ciamis Husni Mubarok mengatakan derasnya arus informasi di era digital menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Menurutnya, kritik yang berkembang saat ini kerap kehilangan substansi karena lebih didominasi narasi emosional dibandingkan hasil kajian ilmiah.

“FGD ini menjadi ruang bersama untuk membangun tradisi kritik yang berbasis data, kajian ilmiah, dan iktikad baik demi perbaikan tata kelola pemerintahan serta kesejahteraan masyarakat,” ujar Husni.

Ia menambahkan, forum tersebut diharapkan mampu memperkuat sinergi antara mahasiswa, pemerintah daerah, DPRD, dan kalangan akademisi. Dengan demikian, kritik yang disampaikan mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai kontrol sosial, tetapi juga menghadirkan solusi atas berbagai persoalan publik.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis Dr. Andang Firman Triyadi menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai mitra pemerintah dalam mengawal pembangunan daerah. Menurutnya, kritik akan lebih bernilai apabila disampaikan berdasarkan pemahaman terhadap proses penyusunan kebijakan, didukung data, serta mempertimbangkan kondisi di lapangan.

“Pemerintahan bukan sekadar mesin birokrasi, tetapi motor penggerak pelayanan publik dan pembangunan daerah. Karena itu mahasiswa perlu memahami bagaimana kebijakan dirumuskan hingga diimplementasikan sehingga kritik yang disampaikan benar-benar berbasis data dan fakta,” kata Andang.

Pandangan serupa disampaikan Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Ciamis Mohammad Ijuddin. Ia mengingatkan mahasiswa agar tetap menjalankan perannya sebagai agen perubahan dengan mengedepankan integritas moral serta tradisi intelektual.

“Kritik yang baik bukan sekadar menyampaikan penolakan, tetapi juga menawarkan solusi yang argumentatif dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik,” ujarnya.

Akademisi Fahmy Farid Purnama juga menegaskan pentingnya peran mahasiswa sebagai social control. Namun, menurutnya, kritik yang disampaikan harus lahir dari hasil riset, analisis kebijakan, dan penguasaan terhadap regulasi yang berlaku sehingga memiliki dasar yang kuat.

Melalui penyelenggaraan FGD ini, PC PMII Kabupaten Ciamis berharap budaya dialog antara mahasiswa dan para pemangku kepentingan semakin kuat. Forum tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya kritik yang konstruktif sekaligus berkontribusi terhadap penyusunan kebijakan publik yang lebih transparan, partisipatif, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *