Hari Krida Pertanian ke-54 Ciamis 2026, Herdiat Sunarya Dorong Transformasi Teknologi untuk Perkuat Swasembada Pangan

ciamisnews
ciamisnews

CIAMISNEWS – Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, secara resmi membuka Peringatan Hari Krida Pertanian (HKP) ke-54 Tingkat Kabupaten Ciamis Tahun 2026 di Lapang Desa Sumberjaya, Kecamatan Cihaurbeuti, Senin (13/7/2026). Mengusung tema “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan di Kabupaten Ciamis”, kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen pemerintah daerah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong kemajuan sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan dan penggerak ekonomi daerah.

 

Dalam sambutannya, Herdiat Sunarya menegaskan bahwa Kabupaten Ciamis sebagai daerah agraris memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan sekaligus kedaulatan pangan nasional. Menurutnya, keberhasilan sektor pertanian tidak terlepas dari dedikasi para petani yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga ketersediaan pangan.

 

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Ciamis, saya menyampaikan penghormatan dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh petani yang selama ini telah menjadi pejuang pangan dan penopang ketahanan pangan daerah,” ujar Herdiat.

 

Ia mengungkapkan, lebih dari 60 persen penduduk Kabupaten Ciamis berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Peran sektor pertanian juga dinilai sangat besar dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah, termasuk menekan angka pengangguran yang turun dari 7,22 persen menjadi 4,07 persen.

 

“Yang bisa menekan inflasi dan pengangguran di Ciamis adalah para petani,” tegasnya.

 

Menurut Herdiat, aktivitas ekonomi di sektor pertanian terus berputar sehingga mampu menciptakan produktivitas masyarakat pedesaan sekaligus memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

 

Selain itu, Kabupaten Ciamis saat ini juga mencatatkan surplus sejumlah komoditas pangan strategis seperti beras, daging ayam, dan telur ayam. Produksi yang melimpah tersebut bahkan telah dipasarkan ke berbagai daerah di luar Ciamis.

 

Meski demikian, Herdiat mengakui sektor pertanian masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, alih fungsi lahan, meningkatnya risiko usaha tani, hingga regenerasi petani yang menjadi persoalan serius.

 

Karena itu, ia menekankan pentingnya percepatan transformasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi modern, peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang pertanian, serta mendorong keterlibatan generasi muda agar tertarik mengembangkan sektor pertanian.

 

Menurutnya, peluang besar juga terbuka melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan pangan dalam jumlah besar, berkualitas, dan berkelanjutan.

 

“Peluang ini harus mampu dimanfaatkan oleh petani dan kelembagaan pertanian di Kabupaten Ciamis sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.

 

Herdiat menegaskan bahwa swasembada pangan tidak hanya diukur dari meningkatnya hasil produksi, tetapi juga harus mampu menghadirkan kesejahteraan bagi petani, menarik minat generasi muda untuk bertani, memperluas penerapan teknologi pertanian, serta memperkuat kelembagaan pertanian yang mandiri dan berdaya saing.

 

Sementara itu, di tengah kelangkaan pupuk subsidi yang masih terjadi di berbagai daerah, petani Ciamis dinilai mampu beradaptasi melalui inovasi penggunaan pupuk organik. Saat ini tercatat lebih dari 200 hektare lahan persawahan telah menerapkan pupuk organik yang dinilai lebih ekonomis, mudah diperoleh, serta mampu meningkatkan nilai jual hasil panen dibandingkan penggunaan pupuk kimia.

 

Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi Jawa Barat, Otong Wiranto. Ia menyebut Kabupaten Ciamis layak menjadi percontohan di Jawa Barat karena menjadi satu-satunya kabupaten yang secara konsisten memperingati Hari Krida Pertanian setiap tahun.

 

Namun demikian, Otong mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah menghadapi ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang mulai berdampak pada sejumlah wilayah di Jawa Barat.

 

“Kita tidak boleh lagi bekerja dengan cara-cara lama. Pertanian harus modern, berbasis teknologi, dan efisien,” ujarnya.

 

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah terus mendorong penerapan berbagai inovasi seperti sistem pompanisasi untuk pengairan lahan serta metode budidaya hemat air yang akan diujicobakan secara lebih luas guna menjaga produktivitas pertanian saat musim kemarau.

 

Di sisi lain, Otong menilai peluang pengembangan sektor hortikultura di Ciamis masih sangat terbuka. Saat ini produksi sayur dan buah lokal baru mampu memenuhi sekitar 40 hingga 50 persen kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi petani, khususnya generasi petani milenial, untuk meningkatkan produksi sekaligus memenuhi kebutuhan pasar, termasuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

 

Melalui peringatan Hari Krida Pertanian ke-54 ini, Bupati Herdiat mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat semangat “Guyub Ngawangun Galuh” dalam membangun sektor pertanian yang maju, modern, berdaya saing, dan berkelanjutan.

 

Menurutnya, bagi masyarakat Tatar Galuh, pertanian bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan bagian dari identitas dan budaya yang harus dijaga. Karena itu, setiap upaya memajukan pertanian merupakan investasi penting untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mewujudkan masa depan Kabupaten Ciamis yang lebih maju.

Share This Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *